Diawal juni kemarin menjadi pengalaman yang sangat berkesan
untuk saya dan teman-teman gerakan cinta aanak tani. Pagi itu, kami bersiap
untuk pergi kerumah teman kami termasuk sebagai peneriman manfaat GCAT juga
yaitu ojah. Sebelumnya rencana untuk mengunjungi rumah ojah sudah direncanakan
bersama . Kami berkumpul jam 8, tetapi saya, puloh dan hedi sedikit telat hehe,
kami kerumah ojah ditemani kak Yani yang imuuuuuuuuuuuut
Setelah berkumpul
semua ,kami berangkat dengan angkutan umum jurusan puraseda, sebenarnya kami
tidak mau naik angkot itu karena tidak cukup tapi jika menunggu akan lama lagi dan
rumah ojah itu jaraknya jauh , akhirnya kami sepakat untuk naik walaupun
berdempetan seperti ikan cue yg hendak dijual
-_- Saya dan antik pun duduk didepan dekat pak supir yg hendak bekerja, mengendarai
mobil yang hendak berjalan brem brem breem *oke itu ngaco *
yang lainnya duduk dibelakang yang mungkin
sebenarnya tidak cukup .
Oke mobil pun mulai jalan dengan
dikemudikan seorang supir karena jika tidak ada supir, waspadalah bisa jadi itu
mobil hantu -,- *ngaco lagi* . Saya sendiri sibuk dengan antik berbincang
tentang apapun yang saya dan antik ingat, sesekali pak supirnya juga ikut
nimbrung *so kenal, alibi mau kenalan* haha karena memang pak supirnya masih
muda jadi lebih pantas dipanggil bang supir . Yang dibelakang saya tidak
terlalu memperhatikan, mungkin mereka berpikir “bagaimana cisarua itu ? apakah
ada kehidupan ? *ngaco lagi* -_-
Karena perjalanan jauh, mungkin
kita sibuk dengan pikiran masing-masing yang bercabang kemana-mana -,- Akhirnya
kita telah dipenghunjung jalan Puraseda, kami pikir itu telah sampai nyatanya
belum, masih jauh. Oke kami melanjutkan
perjalanan, harusnya untuk memasuki daerah Cisarua hanya dengan akses ojeg,
namun karena kita ber-8 untuk naik ojeg sangat tidak mungkin, akhirnya kita
merayu pak supir eh bang supir untuk mengantar kita sampai ketujuan. Awal
memasuki wilayah Cisarua kami disuguhkan jalan bebatuan. Bang supir pun
keliatan sedikit kesulitan menerjang rintangan jalan tersebut -,- setelah lebih jauh memasuki wilayah Cisarua alias alamat rumah ojah,
hamparan hijau pun menyejukan hati, menyilaukan mata seakan mengucapkan
‘welcome to cisarua’ . Sejauh mata
memandang sejauh itu pula yang terlihat hanya hamparan padi nan hijau,
perbukitan yang menjadi pelindung, sungai yang membelah ditengah-tengah
persawahan, satu kata yang terlontar “Subhanallah” ini benar-benaar pemandangan
seperti dalam lukisan, indah sekali J
Setelah memanjakan mata akhirnya
kami sampai, bukan sampai langsung dirumah ojah karena jalan kerumah ojah tidak
cukup untuk mobil, akhirnya kami turun dan memutuskan untuk berjalan kaki saja
. Setapak demi setapak kami lalui,
berbagai hal menarik dapat kita temukan disana mulai dari bu tani yg sedang
menanam padi, sungguh pahlawan pangan dapat kita temui disini dengan mudah ;)
lalau pak tani yang sedang menggiring kerbaunya agar berjalan dengan rutenya,
lalu dari jauh terdengar suara seperti suara kaleng yang diadu-adukan, semakin
dekat semakin keras dan terlihatlah bahwa itu namanya gulundung *kata ojah*,
saya tidak tahu pasti bagaimana penggunaanya tapi katanya untuk menyaring hasil
dari pertambangan emas.
Dan setelah lewati lembah dan
gunung akhirnya sampai lah kerumah ojah yang beralamatkan kp.Cisarua RT 05/06
Ds. Purasari Kec. Leuwiliang. Perlu diketahui rumah ojah sangat nyaman dan
sejuk, samping rumah ada hamaparan hijau
padi lagi, depan rumah berdiri pohon mangga dan kolam ikan. Lebih nyamannya
lagi diatas kolam ikan itu dibangun yang namanya saung .
Sesampainya
disana tentu kita pun bersapa dengan ibu ojah tetapi ayah ojah tidak ada karena
menjalankan kewajibannya sebagai seorang pahlawan pangan!. Kami disuguhi
makanan khas sunda seperti jenar dan asoy.
Tak lama bercanda gurau, kami
segera menjalankan kewajiban kami sebagai pemuda/i Indonesia untuk terus
menuntut ilmu. Didampingi kak Yani kami belajar persiapan untuk mengikuti tes
SBMPTN agar masuk ke PTN yang kita idamkan, amiin. Mulai dari biologi, TPA,
ekonomi dan Geografi kami santap itu semua 
Siang pun menjelang, dan memang
waktunya untuk memberi cacing diperut
yang kian bernyanyi -,- Pengertiannya ibu ojah sudah menyiapakan hidangan makan
siang dengan menu ikan goreng yg diambil langsung dari kolam depan rumah, tahu
goreng, tumis bayam, dan tak lupa samabal . Sangat nikmat menikmati pemandangan
hijau ditemani santapan pertanian pula apalgi makan bersama diatas saung
*lengkaplah*
Tak terasa waktu cepat berlalu,
sungguh terasa sebentar jika kita berada ditempat yang begitu nyaman dan indah,
bisa merasakan benar-benar aura pertanian dikampung desa Cisarua . Kami harus
segera pulang karena jarak pun menjadi kendala . Perjalanan pulang pun kami
menikmatinya dengan suguhan alam yang tiada habisnya, tak dapat dipungkiri
indahnya desa Cisarua ini . Besok, lusa atau nanti kami pasti mengunjungi
Cisarua lagi , thanks for ojah family’s J
Tiada ulasan:
Catat Ulasan