Selasa, 9 Julai 2013

Warna-warni Indonesia


Negara Indonesia tersebar dari  sabang sampai merauke yang memiliki 5 pulau terbesar dan pulau-pulau kecil lainnya. Indonesia kaya akan sumber daya alamnya, kehidupan dari Indonesia pun tak terlepas dari ‘pertanian’. Kekayaan yang dimiliki harusnya mampu menjadikan seluruh warga negaranya sejahtera, karena memang Pertanian yang merupakan sektor penting bagi Indonesia. Kekayaan yang dimiliki Indonesia tersebar diseluruh pulau dan warga negaranya pun tak lepas dari petani sesuai dengan keadaan dikawasan masing-masing. Jika mereka yang berada dipegunungan, mereka bisa memanfaatkannya dengan bercocok tanam, dll. Dan jika mereka tinggal didaerah pantai, maka profesi yang dijalaninya adalah sebagai nelayan. Namun nyatanya, kesejahteraan warga negara mungkin hanya ada ditulisan-tulisan, harapan,  atau bahkan cita-cita semu yang selalu diumbar oleh para pejabat negara sebagai ecek-ecek saja. Tidak sedikit masyarakat yang menjadi pengemis dinegaranya sendiri, menjadi pembantu dinegaranya sendiri, mereka mungkin tidak tahu betapa kayanya Indonesia ini. Namun apa daya jika sang penguasa membuat masyarakat Indonesia seperti  ‘Kerbau diCocok hidungnya’ sehingga hanya bisa berkata ‘iya’ untuk semua yang diperintahkannya.
                Salah satu fakta nyata yang dapat saya jelaskan bahwa belum semua masyaraka Indonesia sejahtera adalah ketika saya datang ke Sungai Ciliwung. Ya sungai yang selalu menjadi sorotan saat musim hujan datang, karena sungai inilah yang menjadi jalan air dari bogor ke Jakarta . Biasanya di Ibu kota Jakarta, masyarat yang tidak mempunyai rumah menempati kolong Jembatan, area pinggiran rel kerta api, bantaran sungai, tapi say amnenemukan kali ini benar-benar disungai. Mereka menjadikan sungai Ciliwung sebagai  tempat tinggal mereka, dan ini membuktikan bahwa kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia tidak menjamin kesejahteraan masyarakat .
                Sebenarnya, mereka juga tidak menginginkan untuk tinggal ditempat yang sangat jauh dari kata layak. Mereka juga ingin menjadi masyarat  yang lainnya, yang mempunyai tempat tinggal layak untuk menjalani kehidupan yang normal. Namun Jakarta yang katanya menjanjikan menjadikan mereka-mereka yang hidup didesa berbondong-bondong untuk mengadu nasib di Ibu Kota ini, padahal di Jakarta mereka justru jadi gelandangan, hanya menambah beban pemerintah, menambah jumlah angka kemiskinan saja . Hidup didesa sebenarnya lebih menjamin, diDesa persaingan masih sedikit, asalkan kita mempunyai kreatifitas dan kemampuan untuk menciptakan suatu usaha yang nantinya akan berkembang dan bahkan bisa membantu warga lainnya yang menganggur. Dengan begitu angka pengangguran akan berkurang, membantu pemerintah juga dan bisa memberikan manfaat kepada orang lain.
                Kini, kemiskinan yang terus membayangi bangsa Indonesia masih menjadi hal yang serius . Pemerintah yang belum aammpu mengatasi kemiskinan ini mungkin hanya butuh waktu saja karena semuanya tidak kilat . Tapi jika kita melihat Pemerintah sekarang ini apalagi wakil rakyat yang seharusnya membela dan bersorak demi kepentingan warganya, nyatanya bersorak demi kepentingan pribadi memperkaya diri sendiri yang akhirnya kemiskinan bertambah dan tidak teratasi. Dewasa ini, Masyarakat  sudah semakin kritis dan bisa menilai sendiri kualitas Pemerintah yang akhirnya akan menganggap Pemerintah sendiri rendah dan peraturan-peraturan bisa dilanggar tanpa rasa ada ketakutan sedikitpun.  Ini membuktikan mosi ketidakpercayaan atas Pemrintah sudah sangat tinggi. Mayarakat butuh pembaharuan demi membenahi bangsa ini.
                Mengharapkan pemimpin yang sesuai dengan harapan masyarak selama ini memang sulit, sebut saja jokowi yang diumbar-umbar calon pemipin yang baik nyatanya belum mampu membenahi Jakarta .  Dari itu, masyarakat Indonesia harus bisa menilik hal apa saja yang ada di Indonesia ini yang bisa mejamin kehidupan mereka . Pertanian yang sangat mendominasi kekayaan di Indonesai ini harusnya lebih difokuskan lagi, nyatanya pertaniann mampu memenuhi kebutuhan dan menjadi sumber utama kehidupan manusia . 
                Identitas Indonesia sendiri adalah pertanian.  Dari itu mulailah membuat kebijakan yang mendukung pertanian karena pertanian berkata tentang fakta kehidupan. Pertanian sangat menjamin kehidupan, jangan hanya bergantung pada keputusan pemimpin. Keragaman yang terjadi di Indonesia ini menjadikan warna-warni untuk Indonesia sendiri . Tapi dari sekian warna kitu, pertanian lah yang harusnya bisa melunturkan warna-warni  di Indonesia sehingga hanya ada satu warna dinegeri kita ini .

The Story of Cisarua


Diawal juni kemarin menjadi pengalaman yang sangat berkesan untuk saya dan teman-teman gerakan cinta aanak tani. Pagi itu, kami bersiap untuk pergi kerumah teman kami termasuk sebagai peneriman manfaat GCAT juga yaitu ojah. Sebelumnya rencana untuk mengunjungi rumah ojah sudah direncanakan bersama . Kami berkumpul jam 8, tetapi saya, puloh dan hedi sedikit telat hehe, kami kerumah ojah ditemani kak Yani yang imuuuuuuuuuuuut sipu.gifSetelah berkumpul semua ,kami berangkat dengan angkutan umum jurusan puraseda, sebenarnya kami tidak mau naik angkot itu karena tidak cukup tapi jika menunggu akan lama lagi dan rumah ojah itu jaraknya jauh , akhirnya kami sepakat untuk naik walaupun berdempetan seperti ikan cue yg hendak dijual  -_- Saya dan antik pun duduk didepan dekat  pak supir yg hendak bekerja, mengendarai mobil yang hendak berjalan brem brem breem *oke itu ngaco * laugh_01.gif yang lainnya duduk dibelakang yang mungkin sebenarnya tidak cukup .
                Oke mobil pun mulai jalan dengan dikemudikan seorang supir karena jika tidak ada supir, waspadalah bisa jadi itu mobil hantu -,- *ngaco lagi* . Saya sendiri sibuk dengan antik berbincang tentang apapun yang saya dan antik ingat, sesekali pak supirnya juga ikut nimbrung *so kenal, alibi mau kenalan* haha karena memang pak supirnya masih muda jadi lebih pantas dipanggil bang supir . Yang dibelakang saya tidak terlalu memperhatikan, mungkin mereka berpikir “bagaimana cisarua itu ? apakah ada kehidupan ? *ngaco lagi* -_-
                Karena perjalanan jauh, mungkin kita sibuk dengan pikiran masing-masing yang bercabang kemana-mana -,- Akhirnya kita telah dipenghunjung jalan Puraseda, kami pikir itu telah sampai nyatanya belum,  masih jauh. Oke kami melanjutkan perjalanan, harusnya untuk memasuki daerah Cisarua hanya dengan akses ojeg, namun karena kita ber-8 untuk naik ojeg sangat tidak mungkin, akhirnya kita merayu pak supir eh bang supir untuk mengantar kita sampai ketujuan. Awal memasuki wilayah Cisarua kami disuguhkan jalan bebatuan. Bang supir pun keliatan sedikit kesulitan menerjang rintangan jalan tersebut -,-  setelah lebih jauh memasuki  wilayah Cisarua alias alamat rumah ojah, hamparan hijau pun menyejukan hati, menyilaukan mata seakan mengucapkan ‘welcome to cisarua’ .  Sejauh mata memandang sejauh itu pula yang terlihat hanya hamparan padi nan hijau, perbukitan yang menjadi pelindung, sungai yang membelah ditengah-tengah persawahan, satu kata yang terlontar “Subhanallah” ini benar-benaar pemandangan seperti dalam lukisan, indah sekali J
                Setelah memanjakan mata akhirnya kami sampai, bukan sampai langsung dirumah ojah karena jalan kerumah ojah tidak cukup untuk mobil, akhirnya kami turun dan memutuskan untuk berjalan kaki saja . Setapak demi  setapak kami lalui, berbagai hal menarik dapat kita temukan disana mulai dari bu tani yg sedang menanam padi, sungguh pahlawan pangan dapat kita temui disini dengan mudah ;) lalau pak tani yang sedang menggiring kerbaunya agar berjalan dengan rutenya, lalu dari jauh terdengar suara seperti suara kaleng yang diadu-adukan, semakin dekat semakin keras dan terlihatlah bahwa itu namanya gulundung *kata ojah*, saya tidak tahu pasti bagaimana penggunaanya tapi katanya untuk menyaring hasil dari pertambangan emas.
                Dan setelah lewati lembah dan gunung akhirnya sampai lah kerumah ojah yang beralamatkan kp.Cisarua RT 05/06 Ds. Purasari Kec. Leuwiliang. Perlu diketahui rumah ojah sangat nyaman dan sejuk,  samping rumah ada hamaparan hijau padi lagi, depan rumah berdiri pohon mangga dan kolam ikan. Lebih nyamannya lagi diatas kolam ikan itu dibangun yang namanya saung .
Sesampainya disana tentu kita pun bersapa dengan ibu ojah tetapi ayah ojah tidak ada karena menjalankan kewajibannya sebagai seorang pahlawan pangan!. Kami disuguhi makanan khas sunda seperti jenar dan asoy.
                Tak lama bercanda gurau, kami segera menjalankan kewajiban kami sebagai pemuda/i Indonesia untuk terus menuntut ilmu. Didampingi kak Yani kami belajar persiapan untuk mengikuti tes SBMPTN agar masuk ke PTN yang kita idamkan, amiin. Mulai dari biologi, TPA, ekonomi dan Geografi kami santap itu semua laugh_01.gif
                Siang pun menjelang, dan memang waktunya untuk memberi  cacing diperut yang kian bernyanyi -,- Pengertiannya ibu ojah sudah menyiapakan hidangan makan siang dengan menu ikan goreng yg diambil langsung dari kolam depan rumah, tahu goreng, tumis bayam, dan tak lupa samabal . Sangat nikmat menikmati pemandangan hijau ditemani santapan pertanian pula apalgi makan bersama diatas saung *lengkaplah*wow.gif
                Tak terasa waktu cepat berlalu, sungguh terasa sebentar jika kita berada ditempat yang begitu nyaman dan indah, bisa merasakan benar-benar aura pertanian dikampung desa Cisarua . Kami harus segera pulang karena jarak pun menjadi kendala . Perjalanan pulang pun kami menikmatinya dengan suguhan alam yang tiada habisnya, tak dapat dipungkiri indahnya desa Cisarua ini . Besok, lusa atau nanti kami pasti mengunjungi Cisarua lagi , thanks for ojah family’s J